Posts

JATUH CINTA ITU BERISIKO

Jatuh cinta itu berisiko. Berbahaya tapi di sisi lain membuat kita bahagia. Kali terakhir merasakan jatuh cinta, sudah cukup lama, mungkin sekitar 3 tahun yang lalu. Aku masih ingat betul bagaimana cinta itu bekerja, meski tak terucap kata tapi terasa dengan perlahan namun mendalam. Sederhana namun mampu membentuk aku menjadi seseorang yang berbeda, dalam arti, menjadi aku yang lebih baik. Menaruh harapan tidak pernah menyenangkan, namun lain cerita ketika dengan seseorang yang memang dicintai. Aku tidak mungkin mencintai lelaki, yang dengannya aku tidak bisa belajar apa-apa. Seseorang yang dengannya aku bisa menjadi apa-adanya diriku, namun membuatku maju. Yang kutahu sejak saat itu, cinta hadir dalam bentuk aneh. Hal-hal sederhana saja bisa terasa menyenangkan, seperti mengunjungi perpustakaan. Aneh, kan? Dulu aku tidak serajin itu diam di perpustakaan untuk menyelesaikan tugas dan kerjaanku, tapi saat itu apapun yang aku kerjakan terasa menyenangkan. Menulis artikel dengan bayar...

Lelaki Bermata Elang.

Entah awalnya gimana, aku bisa masuk ke dunianya, pun begitu sebaliknya dia. Pernah dia bilang kami ini adalah ketidak-sengajaan yang didekatkan Tuhan. Ya, mungkin aku setuju. Tapi masing-masing dari kami juga berperan membuka ruang. Sama-sama pernah terluka dulunya. Sampai waktu berjalan, bisa-bisanya kami saling sayang tapi gak bilang-bilang, saling peduli tapi gengsi. Kamu sih, tinggi, gengsinya. Tinggal ngomong sayang aja apa susahnyaa? Pake dalih bercanda segala hahaha. Aku juga ke dia cuma berani sembunyi dibalik kata bercanda. Lucu, kan, kami? Betah bertahan dalam ketidak-jelasan tapi diam-diam menyemai kenyamanan. Aku gak mau bilang lebih dulu dan dia yang gak pernah mengatakan hal itu, gitu aja terus sampe aku bingung “ sebenernya kita itu apa dan akan bermuara kemana?” Tapi aku juga begitu lugu, cuma bisa pake isyarat, kode-kodean, enggak gamblang. Terus dia selalu bilang “dasar wanita”. Iya memang kenapa kalo aku wanita? Maaf kalo aku pengecut yang gak mau bilang lebi...

Merdeka & Asa di Ibu Kota –

Image
(sumber gambar: unsplash.com/Jakarta-view) Suatu ketika orang-orang urban lepas dari sangkar kampung halaman, mereka terbang berbondong dari segala penjuru mata angin dan bermuara disebuah tempat bernama; Jakarta. Kota yang keras, namun kerap dielu-elukan, dengan begitu tak lantas membuat sebagian orang gentar akan kemilau pesonanya. Barisan gedung tinggi berjejer rapih tak ubahnya pohon dalam hutan belantara, awan kelabu penuh polutan dicakar olehnya. Macam miniatur yang berkomposisi manusia dari berbagai Provinsi. Melebur menyatu dengan beragam Bahasa dan budaya. Ah, siapa pula yang tak tergiur dengan ladang bisnis yang subur, roda perputaran uang yang bisa dinikmati banyak orang, juga keadaan modern dikelilingi fasilitas lengkap. Katanya, kota yang berjuluk ‘megapolitan’ itu menjanjikan masa depan. Benarkah demikian? Tiap hari manusia berhamburan menjalani kepentingan, ada yang beraktivitas rutin sebagai orang kantoran, berdesakan dalam gerbong kereta yang melaju pe...

Revolusi Total PSSI, Desak Mundur Edy Rahmayadi

Image
Beberapa waktu lalu aku menyusuri jalan Melihat banyak vandal dan slogan bertebaran Mencoba mencerna keadaan Tercium sedang tidak baik-baik saja Rona-ronanya perihal kekuasaan Ternyata rakyat jengah dengan kenyataan Lagi-lagi sepak bola memakan korban Liga yang harusnya menyatukan Malah dipermainkan sekelompok orang Katanya tunduk ditindas atau bangkit melawan Tidak heran banyak aksi dilakukan Ujung akhirnya menuntut reformasi kepengurusan Ribuan aspirasi terangkum dalam petisi Sudah sampaikah kepada kalian wahai para petinggi yang duduk berdasi? Ada slogan ‘kalahkan kami di lapangan bukan di ruangan’ Tidakkah sindiran itu terasa mendiskreditkan? Bapak ibu sekalian, saya ingin bertanya, Manakah yang lebih kuat, Massa atau kekuasaan? Pernah dengar istilah ‘suara rakyat suara Tuhan’? Kalau rakyat tidak suka, begitupun Tuhan Tidak ada jabatan yang harus dipertahankan mati-matian Berbagai desakan pun berhasil membuat seorang pimpinan ...