Putus Baik-Baik Itu Ada
“Kalo baik-baik aja, kenapa putus?” ujar seorang kawan yang tahu kisah kami begitu lama *** “Baik-baik” disini hanya etika mengakhirinya saja, setidaknya ada “Bahasa” yang terlintas setelah perpisahan. Selebihnya, gak ada yang baik-baik. Kami sudah melewati badai yang amat besar dan dapat kesimpulan untuk selesai. Sekitar 2 tahun lalu, ada lelaki yang pamit dari kehidupanku. Dalam arti, dia melangkahkan kaki untuk menikahi perempuan pilihannya, sedangkan aku hanya sepenggal kisah masa lalunya. Mungkin karena itu dia pergi dengan pesan, sebab kami pernah saling memberi kesan. Jadi aku bilang “baik-baik” karena dia pamit dengan sopan. Iya, aku ditinggal nikah. Sedih? Manusiawi, saat itu mentalku terguncang parah. Ya ditinggal wisuda, ditinggal nikah pula. Hahaha. Awal ketika kami tak lagi bersama, rasanya hambar, aku kehilangan arah, entah dibawa kemana hatiku selanjutnya, yang pasti kondisinya saat itu sangat berantakan. Tak munafik, aku perempuan berperasaan. ...